Report from the Trustees visit of July to August 2005

Most families are still living at the bus station. The conditions aren’t good. There are 15 toilets to share between 300 families. The houses that have been built to re-house them were promised to be ready in six months, but in November they will have been waiting 2 years. The new houses look promising from a distance, but up close there’s only one small living room and one bedroom each and it doesn’t matter how big the family, (five children is not unusual). The people will probably never gain the same quality of life they had before the flood, as they don’t have savings and the tourists are slow to return. People are still coming to terms with what’s happened and while some children still have nightmares, many can forget more easily than their parent’s. However the people put on a brave face and their warmth and strength of spirit is an inspiration. They don’t complain and have a brilliant sense of humour despite all that’s happened. 

The money raised by the Bukit Lawang Trust was used to buy rice for each of the 300 displaced families living at the Bus station, and we set up a small health clinic, employing locals to renovate the building. Now the Trust employs a doctor, mid wife, and two nurses and a manager to run the clinic and it is free to all those families who were affected by the flood as well as those in the nearby villages who cannot afford to pay to see a doctor.  We hope to expand in the future and move to larger premises with better facilities.

The Trustees also visited the island of Nias, off the west coast of Sumatra. Since the tsunami and subsequent earthquake in the area, the Trust has widened its scope to assist other villages like Bukit lawang that have been affected by natural disaster. In Nias it was reassuring to see many Aid agencies in operation. The UN, UNICEF, Red Cross and Oxfam all had tents there, as well as various other small agencies. Upon arrival in Gunung Sitoli there was rubble everywhere. Over 60% of buildings lay in rubble, and others will have to be pulled down. Next to the rubble there were make shift coffin makers. It seemed so unfair to the locals why their house was destroyed yet their neighbours’ were fine, of course it was to do with how solid the foundations were but to them it seemed like pot luck, and a random selection of who live and who dies. Many locals are now employed by the Aid agencies, which is great for them and their families as they are on a good salary. However everyone said the Aid was too slow in getting there, and is still taking too long. They need rice everyday and the money to buy the building materials to rebuild their homes and businesses.

We headed to the south of the island, to Sorake beach, close to the legendary surf break at Lagundri Bay. Miraculously no one died here, but their guesthouses and businesses did not survive. The Trust provided fifty families with ground sheets/ sleeping mats (kindly provided by ’side-by-side’), 5 litre water containers and water purifying tablets, yet it just wasn’t enough and it was very difficult to turn people down who were not on our data sheet. We went to the school and gave educational materials such as pens, pencils and note pads and the children were so grateful for these simple things we take for granted. The school is presently housed in wooden huts and the classrooms are bursting with over 60 children in each class, a tough job for any teacher!

We would also like to thank Jersey Telecoms for assisting us with calls made while in Indonesia, Jersey Zoo for their discount on educational materials brought our for the school children and The Jersey Evening Post for donating pens and pencils for the children.  The main message the locals wanted to pass on, apart from their sincere thanks was to come back, the place is safe and beautiful, and for any surfers or nature lovers its hard to find a reason not to.

Laporan dari kunjungan Komisaris Juli – August 2005
 
Kebanyakan keluarga masih tinggal di stasiun bis.
Kondisi aren’t baik.
Ada 15 WC untuk membagikan di antara 300 keluarga.
Rumah yang sudah dibangun untuk menampunk kembali mereka dijanjikan untuk menjadi siap pada enam bulan, tetapi pada November mereka sudah akan menunggu 2 tahun.
Rumah baru kelihatan menjanjikan dari jarak, tetapi ke atas menutup there’s hanya satu kamar hidup yang kecil dan satu kamar tidur masing-masing dan itu doesn’t zat bagaimana besar keluarga, (lima orang anak tidak tidak biasa). Orang mungkin tidak akan pernah mendapat kualitas sama kehidupan mereka mempunyai terlebih dahulu banjir, sebagai mereka don’t mempunyai tabungan dan wisatawan lambat untuk kembali. Orang masih menerima dengan what’s terjadi dan sedangkan beberapa anak masih mempunyai mimpi buruk, banyak yang bisa lupa lebih mudah daripada mereka orang-tua. Namun orang bergembira seolah-olah tak ada kejadian apa-apa dan kehangatan dan kekuatan mereka jiwa adalah ilham.
Mereka don’t mengadu dan mempunyai rasa humor cemerlang meskipun ada semua that’s terjadi.
 
Uang yang dikumpulkan oleh Bukit Lawang Trust terbiasa dengan padi pembelian karena masing-masing dari 300 keluarga tergusur yang tinggal di Stasiun Bis, dan kami mendirikan klinik kesehatan kecil, memperkerjakan penduduk setempat untuk merenovasi gedung. Sekarang Kepercayaan memperkerjakan seorang dokter, mid istri, dan dua orang jururawat dan seorang manajer untuk mengalirkan klinik dan secara gratis kepada semua keluarga itu yang terharu oleh banjir serta yang itu di desa dekat yang tidak bisa memikul membayar untuk pergi ke seorang dokter.
Kami berharap memuai di masa mendatang dan berpindah ke lebih besar tempat dengan fasilitas yang lebih baik.
 
Komisaris juga mengunjungi pulau Nias, tidak jauh dari Pantai Barat Sumatra. Sejak tsunami dan gempa bumi berikut di bidang, Kepercayaan sudah memperluas jangkauannya untuk membantu desa lain seperti Bukit lawang itu sudah terharu dengan kelaziman bencana. Di Nias menenteramkan untuk melihat banyak agen Bantuan di pelaksanaan. PBB, UNICEF, Palang Merah dan Oxfam sama sekali mempunyai tenda di sana, sama baiknya dengan berbagai agen kecil lain. Di atas pendatang di Gunung Sitoli ada runtuhan di mana-mana. Di atas 60% dari gedung terdapat pada runtuhan, dan lain-lainnya akan mesti diturunkan. Di samping runtuhan ada pembuat peti mayat perubahan buatan. Nampak begitu tak adil ke pub lokal mengapa rumah mereka masih dimusnahkan mereka neighbours’ baik-baik, tentu saja seharusnya dilakukan dengan bagaimana padat yayasan ialah tetapi kepada mereka nampaknya seperti keberuntungan periuk, dan seleksi acak yang hidup dan yang meninggal. Banyak penduduk setempat sekarang diperkerjakan oleh agen Bantuan, yang hebat bagi mereka dan keluarga-keluarga mereka sewaktu mereka di atas gaji baik. Namun tiap orang mengatakan Bantuan terlalu lambat dalam pergi ke sana, dan masih mengambil terlalu panjang. Mereka memerlukan padi sehari-hari dan uang untuk membeli bahan bangunan untuk membangun kembali rumah dan perusahaan mereka.
 
Kami menuju ke sebelah selatan pulau, kepada Sorake pantai, dekat debur ombak legendaris mengalah di Lagundri Bay.
Secara ajaib tak seorang pun meninggal di sini, tetapi pasanggrahan dan perusahaan mereka tidak hidup terus.
Kepercayaan membekali lima puluh keluarga dengan lembar-lembar tumbuk/ada tempat tidur untuk tikar (baik disediakan oleh ’side-oleh-side’), wadah air dan air sebesar 5 liter yang membersihkan tablet, masih itu hanya wasn’t cukup dan sangat sulit membelokkan orang ke bawah yang tidak di atas lembar data kami.
Kami pergi ke sekolah dan memberi bahan kependidikan seperti pena, pensil dan bloknot dan anak begitu berterima kasih untuk hal sederhana ini kami mengambil untuk memberi.
Sekolah ialah sekarang housed di pondok kayu dan ruang kelas sedang menyembur dengan di atas 60 orang anak di masing-masing kelas, pekerjaan sulit bagi guru yang mana pun!
 
Kami juga akan gemar berterima kasih kepada Jersey Telecoms karena membantu kami dengan menilpon dibuat sedangkan di Indonesia, Jersey Zoo untuk potongan mereka di atas bahan kependidikan membawa kami bagi anak sekolah dan Pos Malam Baju Kaos karena mendermakan pena dan pensil bagi anak.
Pesan utama pub lokal mau mati, selain terima kasih tulus mereka seharusnya kembali, tempat aman dan indah, dan bagi yang mana pun surfers atau penggemar alamnya sukar menemukan sebab tidak ke.